Monday, May 04, 2009

”Hibernation” is a Natural Process

Setiap relationship mengalami beberapa jenis ”musim”. Relationship ini meliputi hubungan pertemanan, pacaran maupun pernikahan. Beberapa jenis "musim" dimaksud antara lain: Pertama, musim semi (spring). Though the weather in spring is cold and sunny, sometimes it changes to cloud and rain. In spring, the leaves and flowers begin to grow. It feels like eveything has been told to “wake up”. Di sini, semua “keindahan” mulai dibangun, dari yang sebelumnya berwarna “hijau” doang menjadi lebih “berwarna-warni”. Lovely days.

Musim kedua adalah summer, dimana matahari bersinar, cuaca sangat cerah, langit benar-benar biru terang tak berawan dan tidak ada hujan. Pada musim itu banyak orang pergi ke pantai untuk berenang atau sekedar berjemur dan menikmati ice cream sembari memandang indahnya lautan lepas. Semua orang terlihat bahagia. Semua pembicaraan dalam setiap hubungan terdengar sangat ”nyambung” karena orang berbicara pada ”frekuensi yang sama”. Lovely days, lovely relationship.

Musim ketiga adalah autumn, where the weather is colder and wetter. Sebenarnya, autumn bisa saja sangat cerah dan panas, namun bisa jadi tiba-tiba berawan dan hujan. Daun-daun berubah warna dari hijau menjadi orange atau coklat. Bunga dan tanaman mulai ”tertidur”. Di sini hubungan seolah gak jelas arahnya.

Musim keempat adalah winter, dimana cuaca pada musim ini sangat dingin. It can even be freezing for there are many snows. Di musim dingin, daun-daun berguguran dari pohon. Di saat “winter” seperti ini, hubungan seolah jadi “aneh” karena teman baik atau pasangan “seolah” jadi “selfish”. Kenapa “seolah”? Karena memang belum tentu “intention”nya ke situ.

See! Ada banyak musim. Tapi khusus mengenai winter, aku mo sharing sesuatu. Pernah nggak tiba-tiba temen baik atau pasangan kamu tiba-tiba “ngilang”? Atau tiba-tiba temen atau pasangan kamu seolah lebih banyak diam dan seolah ingin menyendiri tidak mau diganggu? Atau malah kamu sendiri yang tiba-tiba ngerasa “pengen sendiri”, gak mau diganggu orang lain? Aku sendiri pernah beberapa kali melakukannya, meski biasanya aku tidak butuh waktu lama untuk “ngilang”. Aku “ngilang dari peredaran” sejenak, hanya karena aku ngerasa aku lagi butuh ruang untuk sendiri. Entah buat mikir, menenung, memahami sesuatu dan lain sebagainya.

Sebutlah, “ngilang dari peredaran” ini sebagai proses “hibernasi”. Dalam dunia fauna, istilah hibernasi diartikan sebagai sebuah proses yang dilakukan seekor binatang untuk mengurangi aktivitas selama musim dingin. Dalam udara dingin, kebanyakan binatang perlu makan dalam jumlah yang banyak untuk memperoleh energi sehingga suhu tubuh menjadi normal. Di musim dingin, makanan biasanya langka sehingga banyak binatang hanya dapat survive/bertahan jika mereka berhibernasi.

Na, sekarang, kalo temen baik atau pasangan kamu tiba-tiba ngilang dan pengen “hibernasi”. Memang menyebalkan awalnya. Saat kek gitu, biasanya kita jadi bingung dan mikir, “aku salah apa ya?”. Trus kamu bertanya, dan mendesaknya sambil bertanya, “Kenapa? Ada Apa? Aku salah apa? Aku bisa bantu apa? And you become such an annoying creature by asking him/her too much. Hehehe… gue banget tuhhh!!! (Tobat… tobat…!!! :-p)

Kaitannya dengan relationship pertemanan atau pasangan, “hibernasi” ini sebenernya adalah proses untuk menemukan atau memahami sesuatu. Ini adalah proses yang menyenangkan karena biasanya saat “keluar” dari proses ini, orang jadi punya energi baru, feel rejuvenated. Menjadi seolah “selfish” hanyalah bahasa lain dari temen atau pasangan kamu yang pengen bilang “I need a private room, so please, let me alone!”. And he/she definitely needs nothing except your understanding.

Memahami bahwa setiap orang dapat berubah menjadi seolah ”selfish” dalam rangka membutuhkan “ruang pribadi” untuk berfikir, merenung atau melakukan “sesuatu” adalah hal yang penting. Di titik itu sebenernya temen atau pacar kamu tidak menuntut “bantuan” kamu, tapi lebih kepada “pengertian” kamu. Dan karena hibernasi adalah proses natural yang dilakukan di musim “dingin”, so let him/her alone, let him/her free. That what he/she needs. Nothing’s more. That’s all.

Sunday, April 12, 2009

Memahami Arti Sebuah Frase "Perambatan Kesalahan"

Mungkin karena saya tumbuh dan besar di lingkungan orang-orang “ilmu pasti” maka sampai hari inipun, saat saya tidak terlalu banyak “bergaul” dengan angka-angka itu lagi, tidak berkurang sedikitpun interest saya terhadap angka dan jenis ilmu ini, meski to be honest, banyak yang lupa juga. Hehehe…

Tulisan ini memang lahir dengan latar belakang pengetahuan dari ilmu pasti. Saya hanya mencoba mengkaitkannya dengan filosofi hidup yang mungkin bisa kita renungi bersama. Ketertarikan saya dengan hal ini muncul saat seorang teman mensharingkan hal ini sama saya 2 bulan yang lalu. Saya pribadi sangat menyukai berbagai “jenis frase unik”, dan bagi saya, frase “perambatan kesalahan” adalah frase yang unik. Makanya, sejak ”pertemuan pertama”dengan ”teman itu”, saya memang sudah berniat untuk membuat tulisan ini, tentunya dengan bahasa pemahaman saya sendiri. Semoga pemahaman saya nggak missed ya… dan semoga sharing ini bermanfaat.

Untuk memahami arti frase perambatan kesalahan atau error propagation, kita akan bahas dulu apa yang disebut dengan Angka Penting, Pengukuran, dan Ketidakpastian.


Angka Penting (Significant Figures)

Istilah Angka Penting atau Significant Figures ditemukan di bidang Fisika. Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran yang terdiri atas Angka Pasti dan satu Angka Taksiran. Contohnya, kita mengukur panjang meja belajar = 1,92 m. Dua angka pertama yaitu 1 dan 9 adalah Angka Pasti, sedangkan angka terakhir yaitu 2 adalah Angka Taksiran yang tidak pasti. Ketiganya adalah Angka Penting. Jadi pengukuran 1,92 m itu memiliki 3 Angka Penting.

Berikut ini adalah beberapa aturan dalam penulisan Angka Penting:

  • Semua angka bukan nol adalah angka penting.Contoh; 25,76 (memiliki 4 angka penting); 3279,157342 (memiliki 10 angka penting);
  • Angka nol di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting.Contoh: 507 kg (memiliki 3 angka penting); 1,007 cm (memiliki 4 angka penting);
  • Angka nol pada deretan di sebelah kiri angka bukan nol pada bilangan desimal tidak termasuk angka penting. Contoh: 0,72 (memiliki 2 angka penting yaitu 7 dan 2);
  • Angka nol pada deretan akhir sebuah bilangan termasuk angka penting, kecuali kalau angka sebelum nol diberi garis bawah.Contoh: 1500 ton (memiliki 4 angka penting) tapi kalau ada garis bawah di angka 0 pertama maka angka pentingnya jadi 3.


Pengukuran (Measurement) dan Ketidakpastian (Uncertainty)

Sebagai Ilmu Pasti, pengukuran (measurement) di Bidang Fisika merupakan suatu hal yang penting. Namun demikian, dalam setiap pengukuran selalu mengandung “ketidakpastian (uncertainty)”. Kalau kita mengukur ketebalan sebuah buku dengan menggunakan penggaris biasa, pengukuran kita reliable hanya terhadap milimeter terdekat dan hasil pengukuran kita (katakanlah) menjadi 3 mm. Adalah hal yang tidak tepat bila mengatakan bahwa hasil pengukuran adalah 3,00 mm. Dengan keterbatasan alat ukur, kita tidak dapat mengatakan apakah ketebalan buku tersebut 3,00 mm, 2,85 mm, atau 3,11 mm. Namun bila kita menggunakan alat ukur micrometer (alat ukur dengan ketelitian sampai 0,01 mm), hasilnya akan menjadi 2,91 mm. Perbedaan antar kedua alat ukur ini disebut sebagai ketidakpastian (uncertainty). Di sini, alat ukur micrometer memiliki tingkat ketidakpastian yang lebih kecil dibandingkan penggaris biasa. Ketidakpastian ini disebut juga sebagai ”error” atau kesalahan karena mengindikasikan perbedaan antara ”hasil pengukuran” dan ”ukuran sebenarnya”.

Lantas, mengapa ketidakpastian pada hasil pengukuran bisa terjadi?

  1. Penyebab pertama terletak pada manusia sebagai ”pelaku” tindakan pengukuran. Biasanya ini yang disebut dengan kesalahan paralaks (paralaks artinya mata), yaitu kesalahan yang disebabkan oleh pengamat karena teknik pembacaan yang kurang tepat.
  2. Penyebab kedua terletak pada alat ukur sebagai ”tools” untuk melakukan pengukuran. Setiap alat ukur memiliki skala tertentu, misalnya saja penggaris, ada yang berskala millimeter, centimeter dan meter. Ini berarti bahwa setiap skala memiliki nilai skala terkecil alat ukur yang bersangkutan. Berkaitan dengan penyebab kedua ini biasanya disebut dengan kesalahan kalibrasi, yaitu kesalahan pada pemberian atau pembagian skala alat ukur yang tidak tepat.

Kita seringkali mengindikasikan ”akurasi” dari hasil pengukuran dengan menuliskan sebuah angka dengan simbol ±, dan angka kedua menunjukkan angka ketidakpastian pengukuran. Misalnya hasil pengukuran panjang buku adalah 25,34 ± 0,03 cm. Ini berarti bahwa ukuran buku sebenarnya adalah tidak kurang dari 25,31 cm dan tidak lebih dari 25,37 cm. Ketidakpastian ukuran buku sebesar 0,03 tersebut diartikan bahwa angka desimal kedua mulai diragukan. Dan semua angka yang ada di depan angka kedua yang diragukan tersebut disebut sebagai angka penting. Sekali lagi, ”keraguan” ini terjadi karena keterbatasan mata dan alat ukur yang digunakan.


Perambatan Kesalahan (Error Propagation)

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa setiap hasil pengukuran memiliki ketidakpastian (error) sendiri-sendiri. Jika terdapat beberapa hasil pengukuran, dan dilakukan operasi matematika terhadapnya, maka ketidakpastian atau error tersebut akan mengalami perambatan. Disini kesalahan pengukuran akan teruuuusss terakumulasi. Let’s make it simple! Misal, hasil pengukuran terhadap panjang sebuah kotak (X) adalah 25,34 ± 0,03 cm, hasil pengukuran terhadap lebar kotak (Y) = 13,52 ± 0,03 cm, dan hasil pengukuran terhadap tinggi kotak (Z) = 5,74 ± 0,01 cm. Selanjutnya apabila kita diminta untuk menghitung volume kotak tersebut, maka hitungan matematisnya adalah XYZ = (25,34 ± 0,03)( 13,52 ± 0,03)( 5,74 ± 0,01) cm. Pada hasil akhir operasi matematika tersebut akan terjadi akumulasi error atau kesalahan (katakanlah d). d ini merupakan angka toleransi yang merupakan hasil penghitungan akhir total error. Akumulasi error hasil operasi matematika (d) inilah yang disebut error propagation atau parambatan kesalahan.


A Lesson Learn of Error Propagation

So sekarang, pelajaran apa yang dapat kita petik dari sini? Sebenarnya, pengukuran tidak hanya dilakukan dalam bidang fisika saja, di bidang-bidang lain pengukuran juga banyak dilakukan, termasuk dalam kehidupan sehari-hari. Basicly, saat orang ingin mendapatkan gambaran (kuantitatif maupun kualitatif) terhadap ”sesuatu”, maka orang melakukan pengukuran. Terkait dengan kehidupan sehari-hari, sadar ataupun tidak kita banyak melakukan pengukuran tentang baik – buruk, terpuji – tercela, pantas – tidak pantas, dan ukuran-ukuran lain sebagainya.

Bahwa setiap pengukuran mengandung kesalahan atau error, semestinya membuat kita lebih mawas diri terhadap setiap ”pengukuran” yang kita lakukan, apalagi terhadap orang lain. Hal ini mengingat bahwa tindakan ”pengukuran” kita bisa saja menimbulkan kesalahan. Di atas disebutkan bahwa salah satu penyebab kesalahan pengukuran adalah kesalahan paralaks (kesalahan mata). Kesalahan mata atau kesalahan paralaks yang terjadi saat membaca sebuah ukuran bisa diartikan sebagai kesalahan cara pandang, baik cara pandang mata jasmani maupun cara pandang mata hati. Artinya, jika kita salah membaca sesuatu dengan mata atau hati kita, nah disinilah kesalahan-kesalahan “kecil” dimulai. Kesalahan-kesalahan ”kecil” ini bila tidak diwaspadai kemudian akan semakin merambat dan terakumulasi membentuk ”gunung kesalahan”.

Penyebab kesalahan pengukuran yang lain terletak pada alat ukur. Setiap orang memiliki nilai (value) pegangan yang berbeda karena memang masing-masing kita tumbuh di lingkungan yang tidak sama. Ukuran ”milik” kita mungkin memang merupakan hasil dari berbagai ”tempaan hidup” yang beragam. Namun demikian, mengingat ”proses hidup” itu banyak macamnya (ada yang baik, ada yang buruk), maka probabilitas terjadinya distractions pada ”ukuran” yang kita bangun pun besar. Bisa jadi kita tumbuh dewasa dengan membawa ”ukuran” yang kurang tepat. Naa... karena kita terbiasa dengan mengenakan ukuran ”milik kita” pada orang lain, maka kita harus waspada, jangan-jangan error hasil pengukuran terjadi karena ”alat ukur” kita yang salah, bukan pada orang lain.

Bagaimana hasil pengukuran bisa akurat bila kita salah memberikan skala pada alat ukur? Kadang saat kita melakukan pengukuran, alat ukur yang kita gunakan pun kalibrasinya tidak tepat. Akibatnya, kita seringkali memberikan hasil-hasil pengukuran yang kurang tepat. Ngomongin tentang cara pandang, value atau nilai, dll yang ada di dunia ini, sebenarnya tidak ada yang mutlak (tentunya ini diluar pembahasan Dimensi Ketuhanan). Setiap hal memiliki ketidakpastian atau errornya masing-masing. Beda-beda “dikit’ semestinya tidak perlu dipertentangkan, sapa tau perbedaan itu masih berada dalam “range” toleransinya. Pemahaman bahwa setiap pengukuran memiliki kesalahan atau errornya masing-masing, mestinya membuat kita makin toleran dan makin bijaksana menyikapi setiap perbedaan.

Mari berefleksi!


Sumber Bacaan:

  1. University Physics with Modern Physics (12 edition), Chapter 1: Unit, Physical Quantities, and Vectors;
  2. Http://soal.yavenu.info/?p=3
  3. Http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081003192638AAovZmk
  4. Http://bpgupg.go.id/index.php?view=article&id=136%3Akemampuan-menulis-angka-penting

Tuesday, March 24, 2009

Mana Rute Terpilih Untuk Pengambilan Keputusanmu?

Beberapa waktu yang lalu, saya dan 2 orang temen baik, -Ida dan Diana-, janjian untuk ketemuan. Fyi, janjian kali ini adalah janjian kesekian kali. Setelah janji-janji sebelumnya gagal kabeh. Wis jaaannn...!!! Maklumlah, saya ini berteman dengan orang-orang penting ITB dan konsultan. Makanya kudu sabar-sabar... :-D. Sembari minum kopi di dago dan cela-celaan, kami membicarakan bisnis baru (walaahhh... tumben lho, kita serius!!!), juga membicarakan beberapa hal berkaitan dengan filosofi hidup (hehehe... segitunyaahhh...;-p).

Tulisan kali ini hanya merupakan summary dari apa yang kami bicarakan saat itu. Topik pembicaraan kali ini berkaitan dengan cara pengambilan keputusan. Menurut kami, terdapat 3 rute pengambilan keputusan. Kami bertiga adalah representasi dari masing-masing rute tersebut, hanya dalam tulisan ini saya tidak merinci ”which route belongs to whom”. Bukan itu concern-nya ya boww...

Rute pengambilan keputusan itu sendiri dapat digambarkan sebagai berikut! Semisal ada 3 titik berhenti, yaitu meliputi: 1) Permasalahan; 2) Keyakinan; dan 3) Pengambilan Keputusan. Lebih rincinya sebagai berikut:











Rute I, A Rasional Style

Rute ini menempuh jalur: Permasalahan --> Keyakinan --> Pengambilan Keputusan. Disini pengambilan keputusan dilakukannya karena sudah merasa ”teryakinkan”. Jadi proses ”analisis” (untuk menjadi "teryakinkan") dilakukan sebelum mengambil keputusan.

Misalnya, di antara kami bertiga, sebutlah si A, adalah anak sulung yang terbiasa taking responsibility dan dependable (sangat bisa diandalkan). A bahkan yang paling rasional (level rasionalitasnya nyaris kayak cowok). Meski cewek, gak ada istilah termehek-mehek deh sama rasa yang nggak ”penting-penting”, termasuk dalam hal percintaan sekalipun. Amat sangat logis. Karenanya, saat dihadapkan dengan suatu permasalahan, si A adalah tipikal orang yang akan mengambil pilihan Rute I.

Ok, biar lebih jelas, kita pake contoh kasus. Misal terkait dengan unconditional love, yang jelas-jelas tuh relationship nggak mungkin dilanjutkan (entah karena alasan apapun). Didasarkan atas ”rasionalitas” bahwa apapun bentuk unconditional love itu irrasional dan time consuming, maka si A akan langsung (atau paling tidak nggak butuh waktu lama) mengambil keputusan untuk tidak meneruskannya. A very efective person.

Berdasar diskusi, di satu sisi, dengan memilih rute ini, seseorang nggak buang-buang waktu, tapi disisi lain, dia kurang kaya dengan berbagai rasa. (sok... boleh setuju ataupun enggak dengan pernyataan ini kok... :-p).

Rute II, Adventure Style

Jenis rute kedua melewati jalur Permasalahan --> Pengambilan Keputusan --> Teryakinkan --> Pengambilan Keputusan. Ini style si B. B adalah tipikal orang dengan spontanitas tergolong tinggi. Bahkan cenderung impulsive. B nggak perlu harus ”teryakinkan” terlebih dulu untuk mengambil keputusan. Selama itu ”sreg” di hati, she’ll take it. ”Sreg” di sini bisa dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana adrenalin dan curiousity terpicu untuk mengetahui gimana pengalaman”didalamnya”. Proses analisis untuk menjadi "teryakinkan" dilakukan setelah mengambil keputusan . Makanya ada keputusan berikutnya.

Taruhlah pada contoh kasus, unconditional love. Kalo si B ‘sreg” untuk menjalaninya, gak peduli itu irrasional dan time consuming, she’ll go for it. Eventhough, she knew exactly that such a thing against values. Parah ya bow?? Mungkin!! Tapi sebenernya, she keeps setting up the limitation. Sebenernya secara rasio, si B menyadari bahwa it wouldn’t work, tapi dia pengen tau sebentaaaarrr aja, relationship jenis ini gimana rasanya yaahhhh??? Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, pada rute ini, proses analisis untuk menjadi "teryakinkan" dilakukan sembari 'menjalaninya"

So, alasan pastinya: pengen tau rasanya gimana dan pengen tau bisa bertahan sampai titik limitasi mana. Pada titik tertentu, setelah si B “nggak sreg” lagi, dan dah ngerasa bahwa di titik itulah dia “mesti” berhenti, lantas dia akan buat keputusan baru to quit from it.

Bisa dibilang, rute ini memang buang-buang waktu banget, hanya orang jenis ini akan punya “kekayaan rasa" lebih banyak. Tapi biar sukses menjalani rute ini, pasca pembuatan keputusan kedua, gunain dengan benar rasionalitas loe, jangan kebanyakan termehek-mehek. Bahaya tu!!

Rute III, Unclear Style

Jenis rute ketiga mengambil jalur: Permasalahan --> Teryakinkan --> Tapi tidak berani mengambil keputusan. Hampir sama dengan rute I, orang yang mengambil rute ini biasanya sangat rasional, saat dihadapkan pada suatu kondisi/permasalahan, dia perlu melakukan proses ”analisis” sampai merasa ”teryakinkan”. Hanya masalahnya, setelah ”teryakinkan" ni orang tidak berani mengambil keputusan. Akibatnya nggak jelas mo kemana dan suka mumet sendiri. Hahaha... Rute ini juga cukup time consuming dan kaya "rasa", hanya bentuk pengalamannya ”sedikit” berbeda dengan pengalaman yang dirasakan oleh pengambil rute II.

Basicly, pemilihan rute pengambilan keputusan ini”melekat” pada karakter” orang. Bahkan, tulisan ini sebenernya didasarkan atas observasi terhadap ”pola-pola” yang biasa diambil oleh masing-masing kami. Entah benar ataupun salah, tapi itulah kesimpulan sejauh ini. Setiap orang boleh setuju maupun tidak terhadap tulisan ini.

So, kamu termasuk tipikal pengambil keputusan dengan Rute yang mana?

Saturday, March 07, 2009

Sebuah Idealisme Bernama ”Kepuasan Intelektual”

Berkaitan dengan pekerjaan, ada beberapa sifat buruk saya (sebenernya saya punya banyak sifat buruk, tapi yang diceritain 3 aja... hihihi..:-D). Pertama, saya bukan tipikal pekerja keras. Bukan sama sekali. Mungkin banyak orang melihat saya sebagai hard worker, tapi pada kenyataan sebenarnya saya memiliki kecenderungan sebagai ”pemalas”. Nonton film, maen/hang out, nongkrong sama teman-teman, makan, tidur dan internetan adalah hal-hal yang saya sebut sebagai ”kesenangan hidup”. Intinya, saya ini penikmat hidup. Beneran. Bahkan, saya bisa jadi memilih hang out sama temen-temen saat semestinya saya harus menyiapkan ”something serious” untuk esok harinya. Huhuhu... parah!

Kedua, saya tipikal orang yang cuek dan sembarangan. Temen-temen kantor saya tau banget bagaimana kondisi meja kerja saya yang tidak pernah rapi dan selalu berantakan. Parahnya, saya tidak merasa terganggu dengan meja kerja yang ”semrawut” tersebut. Kalopun sekali waktu saya mencoba merapikannya (hal ini terjadi jika tiba-tiba dapet wangsit abis kesamber petir..:-p), paling hal itu akan bertahan barang 2-3 hari saja, selebihnya berantakan lagi. Hahaha... entahlah kenapa demikian. Bawaan orok sepertinya.

Ketiga, saya punya kecenderungan gak on-time. Hihihi... ngaku nih! Mungkin karena saya terbiasa tidur larut, maka bangun pagi adalah masalah besar bagi saya. Dulu, saat saya bekerja di konsultan, hal ini bukan masalah, tapi sejak 3 tahun yang lalu, saat saya berkeputusan bekerja kantoran dengan office hour 7.30-16.00, beberapa kali kebiasaan buruk ini membawa masalah. Makanya dalam hal absensi saya termasuk bagian dari ”teladan buruk” di kantor, suka telat datang soalnya. To be honest, meski saya punya alasan bahwa total jam kerja saya pada moment-moment tertentu sama atau bahkan jauh lebih banyak dari jam kerja semestinya, saya merasa tetap harus belajar banyak soal satu ini. So, don’t judge me ya. I keep trying to be punctual.

Dari beberapa sifat buruk yang saya miliki tersebut, saya tetap merasa bersyukur bahwa saya masih dianugerahi nilai-nilai (values) yang membangun sebuah idealisme hidup termasuk dalam bekerja. Beberapa idealisme ini men-driven hidup saya. Salah satunya saya sebut sebagai Idealisme ”Kepuasan Intelektual”.

Saya memang bukan pekerja keras, hanya saya adalah tipikal ”responsible person”. Apapun tanggungjawab yang diberikan, pasti saya lakukan ”sebisa” mungkin. Pantang bagi saya bilang ”nggak bisa”. Saya menganggap tanggungjawab sebagai sebuah ”tantangan”. Even kalo saya diserahi tanggungjawab untuk menghandle hal-hal diluar job description saya, I’ll do it. No matter what. Resah rasanya bila membiarkan sesuatu berjalan menuju ”tak tentu arah” hanya karena tidak ada yang mau/mampu menanganinya (sementara kita jelas-jelas berada di dalam sistem tersebut). Jengah rasanya bila kita tidak melakukan sesuatu semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Dan yang jelas, it’s definitely nothing to do with money.

Dalam beberapa hal, saya memiliki kecenderungan”pola berfikir” yang berbeda dari orang lain. Saya bukan tipikal orang yang inggih-inggih manut atau ngikutin apa kata orang tanpa mengerti benar apa yang akan atau sedang saya lakukan, bos sekalipun (bukan bermaksud kurang ajar ni). Saya juga senang dengan sesuatu yang baru, berbeda, dan tidak biasa. Berkaitan dengan hal ini, sering kali saya harus rela ”jungkir balik/mati-matian bekerja” dan ”mempertaruhkan waktu pribadi” demi sesuatu idealisme yang disebut sebagai kepuasan intelektual. Be frankly, this often put me in lot of ”stress”. Hehehe... makanya saya suka iri dengan teman-teman yang bisa sedemikian fokus, lurus dan konsisten kehidupannya dan puas dengan metode yang biasa dan umum. Tapi di sisi lain, saya bangga bahwa saya masih memiliki “hal-hal” ini dalam hidup saya.

Wednesday, March 04, 2009

Kepingan Puzzle Kehidupan

I just got home after having chit-chat with a close friend in Citos. Emm… sebenernya rencana untuk kongkow bareng sama si bapak satu ini memang dah dari 2 mingguan yang lalu. Sayangnya karena kesibukan manager satu ini, beberapa kali pertemuan mesti dipending. Hehehe…

Icoes. Temen suka dan duka dari jaman kuliah meski beda jurusan; mulai hangout bareng kalo lagi mo ujian (weitzzz jangan salah… kita hangoutnya kalo mo ujian biar ada alasan nggak perlu blajar… makanya ancur tuh IPK S1 kita… tapi tetep dong lulus 4,5 tahun… hahaha), temen yang saya telpon kalo lagi bete and boring (hahaha…) temen yang selalu saya cela-cela dan demen banget nyela saya balik, temen yang kadang memerankan diri sebagai "setan" dan sewaktu-waktu berubah jadi "malaikat", dan lain-lain deh.

Saya suka dengan cara berfikirnya dan kreatifitas otaknya. Biar kata IP-nya dibawah saya (hahaha... ), emmm dijamin ni orang salah satu yang cerdas jebolan arus kuat ITB…huhuhu… mesti traktir makan-makan di Sizzler ni cus! (secara dah gue puji-puji). Makanya, dari dulu ketemu dan ngobrol dengannya memang jadi suatu hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Sure. Apalagi kalo ngebahas tentang filosofi kehidupan. Beughh… dah bisa jadi berapa buku ya...??

Hari ini kita ngebahas tentang Puzzle Kehidupan.

Semisal kehidupan ini diumpamakan sebuah puzzle maka kita adalah salah satu kepingan puzzle yang diharapkan membentuk sebuah gambar yang "bermakna". Pertanyaan selanjutnya, sebagai sebuah kepingan puzzle, apakah peran yang saat ini kita mainkan sampai dengan saat ini “menyempurnakan” atau justru “merusak” gambaran puzzle secara keseluruhan?

Sebagai sebuah kepingan puzzle, kalo kita "tau" gambaran keseluruhan yang akan (ingin) kita bentuk, semestinya kita akan paham dimana menempatkan kepingan puzzle kita agar gambar bentukannya menjadi sempurna. Sayangnya, sering kali kita nggak mengerti kepingan puzzle kita ini mau ditaruh dimana. Sayangnya, sering kali kita nggak paham (atau lupa?) peran yang kita harus mainkan mestinya seperti apa. Instead of berfikir dan bertindak on the track, kita malah disibukkan dengan hal-hal yang "nggak penting".

Merenungkan hal ini bikin air mata saya ingin tumpah rasanya.To be honest, i keep struggling to know and to understand this.

Tuesday, February 17, 2009

Pria macam apa yang dapat menaklukan hatimu?

Hari ini, pas makan siang di kantin, seorang teman sekelas, cewek, bertanya sama saya, ”Kris, pria macam apa yang bisa menaklukan hatimu?” Mungkin setiap wanita akan memiliki jawaban yang beda-beda terhadap pertanyaan ini. Bisa karena kebaikannya, kegantengannya, ke-macho-annya, ke-seksi-annya (boso opo ini?), kekayaannya, dan sebagainya. Itu sah-sah saja. Tidak ada jawaban benar ataupun salah atas pertanyaan ini. Togh ini bicara mengenai apa yang menyangkut ”kenyaman hati” yang mana relativitasnya sangat tinggi.

Tapi bagi saya pribadi, pria cerdas adalah jenis pria yang bisa menaklukan hati. Mereka adalah laki-laki yang sering kali membuat saya terkagum-kagum sambil meneriaki dalam hati, ”Anjaasss... cerdas banget ni orang!”. Mereka juga adalah orang-orang yang membuat saya nyaman berada di dekatnya. Kenyaman ini BUKAN karena saya menganggap diri juga cerdas (aghh... jauhhh banget saya dari deskripsi cerdas itu), tapi lebih dikarenakan saya memiliki kehausan terhadap hal-hal baru dan ”out of the boxes” things, dan dari orang-orang cerdas inilah saya mendapatkannya. Ada aja hal baru yang pasti saya dapatkan dari mereka. That’s why I like them.

Saya rasa, cukup banyak wanita suka dengan pria cerdas. Tapi definisi ”pria cerdas” itu sendiri berbeda-beda bagi setiap orang, bukan?. Saya pribadi tidak sepenuhnya menyebut pria cerdas sebagai mereka-mereka yang lulus dengan predikat cum-laude, menjuarai berbagai perlombaan atau kompetisi, mencapai gelar doktor pada usia yang masih sangat muda, mahasiswa teladan tingkat nasional dan internasional, atau lulusan terbaik dari universitas terbaik di Indonesia atau di dunia dan sebagainya. Bukan kepintaran akademik semacam ini yang menjadi indikator cerdas menurut saya.

Banyak definisi cerdas, tapi di sini saya bicara mengenai kecerdasan versi saya. Dan ini tidak mutlak sifatnya. Orang lain boleh setuju ataupun tidak setuju dengan pendapat saya. Pria cerdas menurut saya di sini lebih didifinisikan sebagai berikut:

  1. Adalah para pria yang memiliki kemampuan untuk menyerap pengetahuan dari sisi filosofi keilmuannya; Instead of mengejar nilai A atau B, pria-pria ini memahami ilmu yang diperolehnya dengan mengambil intisari filosofinya. Biasanya ilmu-ilmu itu termemori kuat dalam otaknya karena mereka memahaminya mulai dari dasar filosifinya. Catatan: orang cerdas bukan berarti harus menguasai banyak hal/bidang lho ya.
  2. Para pria yang dapat memahami (dan apalagi menjalani) berbagai filosofi kehidupan. Saya suka terbengong-bengong dengan berbagai analogi mereka dalam bentuk ungkapan tidak serius (joke) atau pernyataan serius dalam memahami kompleksitas kehidupan.
  3. Para pria dengan karakter ”pria banget” juga adalah pria-pria cerdas. Karakter tersebut misalnya: kemampuan untuk memahami dengan baik apa yang diinginkannya dalam hidupnya, kemampuannya mengambil keputusan, kemampuannya untuk bertanggungjawab terhadap setiap keputusan (termasuk menanggung konsekuensi kesalahan), keberanian untuk mengakui kelemahan, dan sebagainya. Intinya, adalah pria-pria yang matang secara emosionally maupun spritually.

Emm... pria cerdas sendiri bukan sebuah paket lengkap berisi seluruh kriteria tersebut. Togh mereka juga manusia yang punya kelemahan "sometimes win and sometimes lose". Sebenarnya, kekaguman saya terhadap para pria cerdas ini bukan hanya berkaitan dengan romantisme percintaan saja, tapi juga relationship persahabatan dan sebagainya. Beruntung saya memiliki orang-orang macam ini di dalam kehidupan saya. Alison adalah salah satunya. I am lucky and blessed to have him. Selain itu beberapa teman juga termasuk dalam klasifikasi cerdas ini misalnya: pak baban, pak rahmat, pak tri, pak desy, pak adisur, mas haris faozan (atasan kantor); pak cik, mas fel, mas zar, mas ahmad (teman dan senior); rudi, icoes, fer (temen satu angkatan), ramdhan (temen hang-out); yogi (teman kelas sekarang) dan lain-lain.

Having them is such a blessing for me (Untuk hal tersebut, saya ingin mengucapkan berjuta terima kasih). Semoga ke depan, saya menemukan lebih banyak lagi teman-teman cerdas, yang akan mewarnai hidup saya.